PENDAHULUAN
Secara umum laboratorium adalah tempat melakukan berbagai percobaan atau penelitian dalam berbagai bidang. Dalam melakukan percobaan di laboratorium digunakan peralatan dan bahan kimia yang sifatnya belum kita pahami atau kita kenal sama sekali. Bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan ledakan, kebakaran,keracunan, atau bahaya-bahaya lain yang mungkin juga belum kita pahami. Dalam bekerja di laboratorium tentu saja kita mempunyai target atau tujuan namun, dan untuk mencapai target tersebut keselamatan setiap orang yang terlibat di dalamnya tetap menjadi prioritas utama. Hal yang diinginkan adalah dinamika laboratorium yang tinggi namun tidak terjadi kecelakaan (zero accident). Maka untuk mencapai hal tersebut diperlukan manajemen laboatorium yang baik.
ISI
2.1. Pengertian Laboratorium
Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui media praktikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dimana mahasiswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
2.2. Fungsi dan Peranan Laboratorium
Laboratorium berperan sebagai sebagai sumber belajar dan mengajar, melalui metode pengamatan dan metode percobaan, dan sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah dalam proses belajar mengajar.
Secara umum fungsi semua laboratorium adalah antara lain :
1. Sebagai tempat dilakukannya percobaan
2. Sebagai tempat penunjang kegiatan kelas
3. Sebagai tempat display / pameran
Adapun tujuan proses pembelajaran di laboratorium bagi siswa maupun mahaiswa yaitu :
1. Teliti dalam pengamatan dan cermat dalam pencatatan pada saat pengamatan
2. Mampu menafsirkan hasil percobaan untuk memperoleh penemuan dan dapat memecahkan masalah
3. Mampu merencanakan dan melaksanakan percobaan
4. Terampil menggunakan alat-alat laboratorium
5. Tumbuh sikap positif terhadap kegiatan praktikum
2.3. Tata Letak Laboratorium
Tata letak laboratorium meliputi
1. Lokasi dan ukuran.
Syarat umum lokasi :
- Tidak terletak di arah angin,yaitu untuk menghindari polusi terhadap kamar lain
- Mempunyai jarak cukup jauh terhadap sumber air, untuk menghidari pencemaran air
- Mempunyai saluran pembuangan tersendiri untuk menghindari pencemaran penduduk
- Mempunyai jarak cukup jauh terhadap bangunan lain untuk memberikan ventilasi yang cukup dan penerangan alami yang optimum
- Terletak pada bagian yang mudah dikontrol
2. Luas Ukuran Laboratorium
Untuk 40 orang siswa atau mahasiswa, ukuran laboratorium yang baik adalah lebar 8-9 meter dan panjang 11-12 meter atau untuk setiap siswa digunakan lebih kurang 2,5 m2.
2.4. Tata Ruang Laboratorium
Laboratorium sebaiknya ditata sebaik mungkin agar dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang baik dimulai sejak perencanaan pembangunan gedung yang harus mengikutsertakan pengguna (user). Tata ruang yang baik adalah laboratorium harus mempunyai : pintu masuk (in) dan pintu keluar (out), pintu darurat, ruang persiapan, ruang peralatan, ruang penangas, ruang penyimpanan, ruang staf, ruang teknisi, ruang administrasi, ruang seminar, ruang bekerja, ruang istirahat/ibadah, ruang prasarana kebersihan, ruang peralatan keselamatan kerja, lemari praktikan, lemari gelas, lemari alat optik, fan, dan perangkat pendingin (AC).
2.5. Fasilitas Laboratorium
Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakai laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum (utilities) dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik, gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, serta pemadam kebakaran.
2.6. Kegiatan Laroratorium
Melalui kegiatan laboratorium siswa dapat mempelajari fakta, gejala, merumuskan, konsep, prinsip, hokum dan sebagainya. Tujuan kegiatan praktikum selain untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat kognitif juga bertujuan untuk memperoleh keterampilan / kinerja, dapat menetapkan pengetahuan dan keterampilan tersebut pada situasi baru/lain, serta memperoleh sikap ilmiah. Dalam pelaksanaan praktikum, umumnya meliputi:
a. Persiapan
Pada tahapan ini praktikan harus mempersiapkan segala yang diperlukan dalam praktikum, antara lain:
· Menetapkan tujuan praktikum
· Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum
· Memperhatikan keamanan, kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan kerja selama prektikum
· Mempersiapkan langkah kerja agar mempermudah jalannya praktikum
b. Pelaksanaan
Pada tahapan ini praktikan melakukan praktikum sesuai dengan prosedur atau langkah kerja untuk mencapai tujuan yang diharapkan dengan diamati oleh Dosen atau guru, dan asisten.
c. Tindak lanjut
Tahapan ini dilakukan setelah praktikum, pada tahapan tindak lanjut ini yang harus dilakukan oleh praktikan yaitu:
· Mendiskusikan masalah yang muncul saat praktikum untuk dipecahkan sehingga praktikan mengerti sebab, akibat dan cara pemecahan masalah tersebut.
· Mengumpulkan laporan praktikum yang dilengkapi dengan data-data pengamatan.
· Membersihkan dan menyimpan peralatan sehingga dapat digunakan untuk praktikum selanjutnya.
2.7. Peralatan dan Cara Kerja
Selain bahan kimia, peralatan laboratorium juga dapat mendatangkan bahaya bila cara menggunakannya tidak tepat. Contoh sederhana yaitu cara memegang botol reagen, label pada botol tersebut harus dilindungi dengan tangan, karena label bahan tersebut mudah rusak kena cairan yang keluar dari botol ketika memindahkan isi botol tersebut.
Banyak peralatan laboratorium terbuat dari gelas, bahan gelas tersebut mudah pecah dan pecahannya dapat melukai tubuh. Khususnya bila memasukkan pipa gelas kedalam propkaret, harus digunakan sarung tangan untuk melindungi tangan dari pecahan kaca. Pada proses pemanasan suatu larutan, harus digunakan batu didih untuk mencegah terjadinya proses lewat didih yang menyebabkan larutan panas itu muncrat kemana-mana. Juga ketika menggunakan pembakar spiritus atau pembakar bunsen, hati-hati karena spiritus mudah terbakar, jadi jangan sampai tumpah ke atas meja dan selang penyambung aliran gas pada bunsen harus terikat kuat, jangan sampai lepas.
2.8. Bahan Kimia
Setiap bahan kimia itu berbahaya, namun tidak perlu merasa takut bekerja dengan bahan kimia bila tahu cara yang tepat untuk menanggulanginya. Yang dimaksud berbahaya ialah dapat menyebabkan terjadinya kebakaran, mengganggu kesehatan, menyebabkan sakit atau luka, merusak, menyebabkan korosi dan aebagainya. Jenis bahan kimia berbahaya dapat diketahui dari label yang tertera pada kemasannya.
2.9. Penyimpanan Alat dan Bahan
Berikut ini akan dibahas dasar penyimpanan alat dan bahan, langkah-langkah penyimpanan,dan simbol-simbol bahaya pada bahan kimia.
Dasar dari Penyimpanan Alat yaitu :
1. Jenis Alat
Gelas Kimia; Erlenmeyer ; Lumpang dan Alu ; Buret
2. Jenis Bahan Pembuat
Kaca ; Porselin ; Logam ; Kayu
3. Percobaan
Laju Reaksi ; Kesetimbangan; Elektrolisis
4. Seberapa sering alat digunakan
Yang sering digunakan : Gelas kimia
Yang jarang digunakan : Lumpang & Alu
Dasar Penyimpanan Bahan
1. Wujud Bahan (Padat dan Cair)
2. Sifat Bahan (Asam dan Basa)
3. Sifat Bahaya (Korosif; Racun; Mudah Terbakar)
4. Seberapa sering digunakan
Langkah – Langkah Penyimpanan
1. Bersihkan ruang dan penyimpanan alat dan bahan
2. Periksa data ulang alat dan bahan yang ada
3. Kelompokkan alat dan bahan yang ada berdasarkan pada keadaan alat dan bahan
4. Penyimpanan dan penataan alat dan bahan disesuaikan dengan fasilitas laboratorium dan keadaan alat dan bahan
Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya pada bahan kimia termasuk notasi bahaya dan huruf kode (catatan:huruf kode bukan bagian dari simbol bahaya)
1. Bahan Mudah Terbakar (Inflammable substance )
Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi, bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable substances) juga termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances).
Explosive (bersifat mudah meledak)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “explosive” dapat meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter, etanol, dan lain sebagainya.
Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan adalah:
a. Karena adanya pelarut mudah terbakar.
b. Karena ada udara cair.
Udara dapat meledak jika dicampur dengan unsur-unsur pereduksi dan hidrokarbon
c. Karena ada debu.
Debu padat dari bahan mudah terbakar bercampur dengan udara dapat menimbulkan ledakan dahsyat
d. Karena pencampuran gas
e. Karena ada peroksida.
Ledakan yang mungkin ditimbulkan oleh bahan-bahan mudah meledak ini dapat dicegah dengan cara:
a. Biasakan melakukan eksperimen di tempat terbuka atau di dalam lemari uap
b. Jika ragu tentang sifat kimia bahan, gunakanlah dalam jumlah yang sedikit dan lakukan percobaan di atas penangas air
c. Gunakan alat-alat yang layak (sesuai) seperti gelas tebal yang stabil oleh tekanan
d. Selain hal di atas untuk keamanan maka lakukan pengamatan dari belakang layar pengaman atau gunakan pelindung seperti masker.
Oxiding (Pengoksidasi)
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “oxidizing” biasanya tidakmudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat mudah terbakar. Bahan organik penoksidasi sering menimbulkan ledakan dahsyat, terutama peroksida. Untuk laboratorium sekolah sebaiknya tidak usah menyediakan bahan ini seperti misalnya: Chlorat, Perklorat, Bromat, Peroksida, Asam Nitrat, Kalium Nitrat, Kalium Permanganat, Bromin, Klorin, Fluorin, dan Iodin yang mudah bereaksi dengan Oksigen (dalam kondisi tertentu) sehingga dikelompokkan menjadi bahan pengoksidasi.
Extremely flammable (amat sangat mudah terbakar)
Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “extremely flammable” merupakan bahan yang sangat mudah terbakar. Contoh bahan dengan sifat tersebut adalah dietil eter (cairan) dan propane (gas).
Kebakaran dapat terjadi karena berbagai hal. Sumber-sumber yang dapat menyebabkan timbulnya perapian/kebakaran diantaranya: nyala api, permukaan panas, hubungan pendek (korsluiting) listrik, muatan listrik statis, puntung rokok menyala, korek api dan sumber lainnya.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani bahan-bahan kimia yang mudah terbakar, agar keselamatan dan keamanan tetap terjaga, yaitu:
a. Bahan tidak boleh dipanaskan secara langsung atau disimpan pada permukaan panas.
b. Simpan bahan di tempat yang ventilasinya baik
c. Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum
d. Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain basah atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam
e. Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar melebihi ½ kapasitasnya. Gunakan batu ddih guna menghindarkan ledakan/letupan
f. Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke dalam bak cuci
g. Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif
h. Botoil penyimpanan bahan mudah terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8 isinya untuk udara. Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dari sumber perapian
i. Bahan padat mudah terbakar simpan di tempat sejuk, jauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam
j. Kontrol semua bahan secara periodik
2. Bahan – bahan berbahaya bagi kesehatan
Istilah bahan berbahaya untuk kesehatan termasuk sub-grup bahan bersifat sangat beracun(very toxic substances), bahan beracun (toxic substances) dan bahan berbahaya (harmful substances).
Very toxic (sangat beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘very toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya kalium sianida, hydrogen sulfida, nitrobenzene dan atripin.
Toxic (beracun)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.Demi keamanan sebaiknya kita menganggap semua bahan kimia itu beracun. Berdasarkan tempat masuknya melalui tubuh kita, bahan-bahan beracun dikelompokkan menjai tiga kelompok besar yaitu bahan beracun yang masuk melalui pencernaan (mulut), absorbsi kulit, dan pernapasan. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menghindari masukknya bahan-bahan tersebut ke dalam tubuh adalah:
a. Untuk menghindari racun melalui mulut:
· Hindarkan makan, minum atau merokok saat bekerja
· Cuci tangan dan keringkan sebelum meninggalkan laboratorium
· Hati-hati jangan menggunakan pipet isap.
b. Untuk menghindari racun melalui kulit:
· Cegah kontak dengan kulit
· Gunakan sarung tangan
· Cuci tangan dengan sabun dan air dengan segera
Untuk pengamatan saat bekerja dengan bahan-bahan beracun, maka sebaiknya:
a. Gunakan bahan sidung di tutup atau di tempat yang berventilasi baik. Jika tidak digunakan, botol harus tetap di tutup
b. Gunakan pelindung seperti sarung tangan dan jas lab.
c. Botol harus selalu memiliki label dan disimpan di dalam lemari terkunci
d. Cuci tangan sampai bersih sebelum meninggalkan laboratorium, tidak boleh membaui senyawa kimia secara langsung dan tidak boleh makan di laboratorium
e. Taburkan pasir atau tanah jika bahan tumpah ke lantai asmpai terserap kemudian uapkan tanah/pasir tersebut di dalam oven.
Harmful (berbahaya)
Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya “harmful” memiliki resiko merusak kesehatan sedang jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Yang tidak diberi notasi toxic, akan ditandai dengan simbol bahaya ‘harmful substances’ dan kode huruf Xn. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya solven 1,2-etane-1,2-diol atau etilen glikol (berbahaya) dan diklorometan (berbahaya, dicurigai karsinogenik).
3. Bahan-bahan yang merusak jaringan (tissue destroying substances)
Corrosive (korosif)
Bahan dan formulasi dengan notasi “corrosive” adalah merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak kesehatan dan kulit hewan uji atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik kimia bahan uji, seperti asam (pH <2) dan basa (pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH (>2%).
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk pengamanan dalam bahan – bahan yang mudah korosif adalah:
a. Simpan bahan di tempat yang sesuai (cocok) dan lakukan pengontrolan atau pengawasan secara teratur
b. Ikuti aturan-aturan penyimpanan, pemberian label, pemakaian, dan pembuangannya
c. Simpan persediaan di laboratorium dalam jumlah minimum
d. Gunakan pelindung
e. Hindarkan jangan sampai tumpah dan jika bersentuhan dengan kulit, cucilah segara dengan air dan sabun
Irritant (menyebabkan iritasi)
Bahan dan formulasi dengan notasi “irritant” adalah tidak korosif tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau selaput lendir. Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya isopropilamina, kalsium klorida dan asam dan basa encer.
4. Bahan berbahaya bagi lingkungan
Bahan dan formulasi dengan notasi “dangerous for environment” adalah dapat menyebabkan efek tiba-tiba atau dalam sela waktu tertentu pada satu kompartemen lingkungan atau lebih (air, tanah, udara, tanaman, mikroorganisma) dan menyebabkan gangguan ekologi. Contoh bahan yang memiliki sifat tersebut misalnya tributil timah kloroda, tetraklorometan, dan petroleum hidrokarbon seperti pentana dan petroleum bensin.
2.10. Keamanan Kerja di laboratorium
Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk keamanan dan kelancaran kerja di laboratorium.
1. Rencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum.
2. Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki.
3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi.
4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.
5. Dilarang makan, minum dan merokok di laboratorium.
6. Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera keringkan dengan lap basah.
7. Hindari kontak langsung dengan bahan kimia.
8. Hindari mengisap langsung uap bahan kimia.
9. Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
10. Pastikan kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen.
11. Pastikan kran air dan gas selalu dalam keadaan tertutup pada sebelum dan sesudah praktikum selesai.
2.11. Penanganan Limbah
Setelah selesai melakukan suatu percobaan maka limbah bahan kimia yang digunakan hendaknya dibuang pada tempat yang disediakan, jangan langsung dibuang ke pembuangan air kotor (wasbak) karena dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan. Limbah zat organik harus dibuang secara terpisah pada tempat yang tersedia agar dapat didaur ulang, limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyebabkan penyumbatan. Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan dengan air secukupnya.
Buanglah limbah sesuai dengan kategori berikut :
1. Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol penampung. Botol ini harus tertutup dan diberi label yang jelas.
2. Limbah padat seperti kertas saring, lakmus, korek api, dan pecahan kaca
dibuang pada tempat sampah.
3. Sabun, deterjen dan cairan tidak berbahaya dalam air dapat dibuang langsung melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya.
2.12. Administrasi dan Pemeliharaan Alat/Bahan Laboratorium
1.Administrasi Alat/Bahan
Tujuan dari administrasi alat/bahan ialah agar mudah mengetahui posisi dan pengambilannya dalam penggunaannya. Dalam hal ini yang perlu diadministrasikan yaitu :
a. Jenis alat/bahan yang ada
b. Jumlah masing-masing alat/bahan
c. Jumlah pembelian dan tambahan
d. Jumlah yang pecah/hilang dan habis
2.Pemeliharaan Alat/Bahan
Masalah penyimpanan alat / bahan biasanya ditentukan oleh keadaan laboratorium, susunan laboratoroum, keadaan perabot laboratorium serta adanya gudang dan ruang persiapan.
2.13. Struktur Organisasi Laboratorium
Dalam pelaksanaan pengoperasian laboratorium kimia di sekolah, struktur laboratorium tersebut minimal melibatkan personal yang meliputi :
a. Kepala sekolah
b. Wakil Kepala Sekolah
c. Tata Usaha
d. Guru kimia (Pengelola dan Pembimbing)
Personal di atas bertugas dan berfungsi:
a. Merencanakan pengadaan alat /bahan laboratorium
b. Menyusun jadwal dan tata tertib laboratorium
c. Mengatur pengeluaran dan pamasukan /pinjaman alat laboratotium
d. Mempersiapkan peralatan/bahan yang dipergunakan pada praktikum
e. Mendaftarkan alat/bahan laboratorium yang habis
f. Mengiventarisasi dan mengadministrasikan pinjaman alat-alat
g. Membuat daftar katalog sesuai dengan jenis alat/bahan
h. Memelihara dan memperbaiki alat-alat
i. Menyusun pelaksanaan kegiatan laboratorium
2.14. Mengelola Laboratorium Kimia
Secara garis besar pengelolaan laboratorium dapat dibagi atas :
1. Memelihara kelancaran penggunaan laboratorium
a. Membuat jadwal yang jelas penggunaan laoboratorium
b. Harus ada tata tertib laboratorium yang harus dilaksanakan secara tegas, yang isinya adalah merupakan larangan, suruhan, dan petunjuk
c. Harus selalu dalam keadaan siap pakai semua perlengkapan penanggulangan kecelakaan seperti alat pemadam api, kotak P3K dan setiap pemakai laboratorium tahu benar penggunaannya.
2. Menyediakan Alat-alat/Bahan-bahan yang diperlukan di Laboratorium
Penyediaan alat /bahan untuk siswa ada dua macam yaitu yang diambil langsung oleh siswa dari ruang terbuka/laci dan yang harus diminta dari petugas laboratorium.
Untuk melihat dengan mudah masuk,keluar serta persediaan alat/bahan dalam laboratorium diberikan suatu kartu yang berisikan :nama alat/bahan , spesifikasi alat, golongan alat,nomor induk, nomor kode, tempat(R/A/L ( R=ruang ,A=almari, L=lantai) dan keterangan (asal barang).
3. Pendokumentasian /Pengarsipan
Hal-hal yang perlu didokumentasikan /diarsipkan adalah :
a. Berkas lembaran kegiatan siswa
b. Data hasil praktikum /percobaan siswa
c. Berkas nilai praktikum
d. Berkas tata tertib laboratorium
e. Buku /kepustakaan /katalog dan sebagainya
4. Peningkatan Laboratorium
Untuk meningkatkan daya guna laboratorium maka setiap akhir tahun ajaran hendaknya guru-guru merencanakan kegiatan laboratorium untuk tahun ajaran berikutnya secara tuntas.
2.15. Keselamatan Kerja di Laboratorium
Kecelakaan yang sering terjadi dilaboratorium antara lain :
a. Luka oleh benda tajam,pecahan kaca dan kena bakar
b. Terkena/percikan oleh cairan zat kimia (karosif/asam/basa pekat)
c. Tertelan zat-zat beracun
d. Pingsan disebabkan bau gas yang memusingkan
e. Terkena kejutan listrik
f. Kebakaran yang disebabkan peletusan yang terjadi dari hasil percobaan
Untuk bentuk kecelakaan diatas maka perlu diambil tindakan pertama pada waktu memberi pertolongan pada sipenderita yaitu :
a. Membawa sipenderita ke tempat yang baik dan tenang
b. Bila pendarahan terjadi pada sipenderita usahakanlah darah yang keluar itu dihentikan dengan jalan mengangkat bagian tubuh yang luka, sehinga yang luka itu berada di atas jantung
c. Usahakan sipenderita terbaring seleluasa mungkin,pakaian dilonggarkan
d. Jangan memberi makanan pada penderita yang sedang pingsan
e. Segeralah minta pertolongan dokter
KESIMPULAN
Laboratorium Kimia seharusnya menyediakan peralatan dan bahan yang dapat digunakan untuk memperoleh pengalaman atau melihat secara langsung proses-proses secara langsung. Sehubungan dengan hal itu, laboratorium dapat menjadi model alam atau diatur sedemikian rupa sehingga mirip dengan situasi sesungguhnya di alam.
Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium, dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan. Para pengelola laboratorium hendaknya memiliki pemahaman dan keterampilan kerja di laboratorium, bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan mengikuti peraturan dapat meminimalis terjadinya kecelakaan di laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Bowo, (2008), Optimalisasi-Pengelolaan-Laboratorium http://bowobiologi.blogspot. com/2008/10/.html
Emha, H., (2002), Pedoman Penggunaan Laboratorium Sekolah, PT Remaja Roesda Karya, Bandung
Griffin, Brian., (2005), Laboratory Design Guide Third Edition, Elsevier, Great Britain
Lubis, M., (1993), Pengelolaan Laboratorium IPA, Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta
Sri Lestari, (2010), Pengelolaan-Laboratorium, http://s tari17.blog.friendster.com/2008/ 06/pengelolaan-laboratorium/
Tim Dosen., (2006), Pengelolaan Laboratorium, FMIPA UNIMED, Medan